Terapi

1. Antasida

  • Antasida tunggal atau kombinasi, terutama yang mengandung Magnesium Hidroksida, Aluminium Hidroksida, dan / atau Kalsium Karbonat untuk mual atau muntah sederhana, terutama untuk netralisasi asam lambung.

2. H2-Bloker

  • Antagonis reseptor histamin-2 (Simetidin, Famotidin, Nizatidin, dan Ranitidin) dosis rendah untuk mengatasi mual dan muntah sederhana yang berhubungan dengan mulas atau refluks gastroesofageal (GERD).

3. Antihistamin-Antikolinergik

  • Antihistamin-Antikolinergik (Dimenhidrinat, Diphenhidramin, Hydroxyzin, Meclizin, Scopolamin, Trimethobenzamid) untuk pengobatan mual dan muntah sederhana, terutama yang berhubungan dengan mabuk perjalanan.

4. Benzodiazepim

  • Benzodiazepin untuk mengatasi kecemasan relatif atau antisipasi mual dan muntah. Baik Alprazolam dan Lorazepam digunakan sebagai tambahan untuk antiemetik lainnya pada pasien yang diobati dengan rejimen yang mengandung cisplatin.

5. Fenotiazin

  • Fenotiazin (pemberian rektal) (Klorpromazin, Prochlorperazin, Promethazin) untuk mual dan muntah sederhana pada pasien yang tidak memungkinkan pemberian oral atau parenteral.

6. Kortikosteroid

  • Deksametason digunakan dalam pengelolaan mual dan muntah yang diinduksi kemoterapi (CINV) dan mual dan muntah pasca operasi (PONV), baik sebagai agen tunggal atau dalam kombinasi dengan antagonis reseptor 5-hidroksi triptamin-3 (5-HT3-RA). Deksametason efektif dalam pencegahan emesis akut yang diinduksi cisplatin dan mual dan muntah yang tertunda dengan CINV.

7. Metoklopramid

  • Metoclopramide digunakan untuk antiemetik pada pasien dengan gastroparesis diabetik dan dengan deksametason untuk profilaksis mual dan muntah yang tertunda terkait dengan pemberian kemoterapi.

8. Cannabinoids

  • Nabilon oral dan dronabinol oral adalah pilihan terapi ketika CINV refrakter terhadap antiemetik lainnya; tetapi tidak diindikasikan sebagai agen lini pertama.

9. Substansi P / Neurokinin 1 Antagonis Receptor

  • Substansi P adalah neurotransmitter peptida yang diyakini sebagai mediator utama fase CINV yang tertunda dan satu dari dua mediator fase akut CINV.
  • Aprepitant dan Fosaprepitant (bentuk aprepitant yang dapat disuntikkan) adalah antagonis reseptor P / NK1 yang diindikasikan sebagai bagian dari rejimen obat berganda untuk profilaksis mual dan muntah yang terkait dengan kemoterapi berbasis cisplatin dosis tinggi.
  • Banyak interaksi obat yang mungkin terjadi; interaksi obat yang signifikan secara klinis dengan kontrasepsi oral, warfarin, dan deksametason oral telah dijelaskan.

10. 5-Hydroxytriptamine-3 Receptor Antagonists (5-HT3-RA)

  • 5-HT3-RAS (Dolasetron, Granisetron, Ondansetron, dan Palonosetron) adalah standar perawatan dalam pengelolaan CINV, PONV, dan mual-muntah yang disebabkan radiasi.

NB. Mual dan muntah yang terjadi dalam 24 jam setelah pemberian kemoterapi didefinisikan sebagai Mual-Muntah akut; mual dan muntah yang dimulai lebih dari 24 jam setelah pemberian kemoterapi didefinisikan sebagai tertunda.

Profilaksis Mual dan Muntah yang Diinduksi Kemoterapi

  • Risiko emetik sedang: 5-HT3-RA (Ondansentron) + Deksametason pada hari 1, kemudian Deksametason pada hari 2 dan 3.
  • Risiko emetik tinggi: 5-HT3-RA (Ondansentron) + Deksametason + Aprepitant/ Fosaprepitant (pada hari pemberian kemoterapi (hari 1)).
  • Profilaksis CINV tertunda dengan risiko emetik sedang: Aprepitant atau Deksametason, 5-HT3-RA, dan / atau lorazepam, dan atau blocker histamin-2, atau PPI pada hari ke 2 dan 3.
  • Profilaksis CINV tertunda dengan risiko emetik yang tinggi: Aprepitant + Deksametason pada hari ke 2 dan 3 dan Deksametason dengan atau tanpa Lorazepam pada hari ke 4.

Mual Muntah Pasca Operasi

  • PONV pada orang dewasa terjadi pada 25% hingga 30% pasien dan dalam waktu 24 jam setelah menjalani anestesi.
  • Risiko rendah: tidak mendapat antiemetik.
  • Risiko sedang: menerima satu atau dua antiemetik profilaksis.
  • Risiko tinggi: harus menerima dua antiemetik profilaksis dari kelas yang berbeda.
Dosis Profilaksis Pilihan Antiemetik Terpilih untuk Mual dan Muntah Pasca Operasi pada Orang Dewasa dan Muntah Pasca Operasi pada Anak
Aprepitant Ondansetron
Dexamethasone Palonosetron
Dimenhydrinate Prochlorperazine
Dolasetron Promethazine
Droperidol Scopolamine
Granisetron Tropisetron
Haloperidol  

Profilaksis= menjaga atau mencegah

Kehamilan

  • Manajemen awal mual dan muntah kehamilan (NVP) sering melibatkan perubahan diet dan / atau modifikasi gaya hidup.
  • Pyridoxine (10–25 mg satu hingga empat kali sehari) direkomendasikan sebagai terapi lini pertama dengan atau tanpa Doxylamine (12,5-20 mg satu hingga empat kali sehari). Pasien dengan NVP persisten atau yang menunjukkan tanda-tanda dehidrasi harus menerima penggantian cairan IV dengan tiamin. Ondansetron 2 hingga 8 mg per oral / IV setiap 8 jam sesuai kebutuhan dapat mengurangi NVP.

Mual Muntah pada Anak-anak

  • Kemoterapi risiko tinggi atau sedang: Kortikosteroid (Dexamethason) + 5-HT3-RA (Ondansentron).
  • Untuk mual dan muntah yang berhubungan dengan gastroenteritis pediatrik, ada penekanan yang lebih besar pada tindakan rehidrasi daripada intervensi farmakologi.
Obat ESO
Antasida Magnesium: Diare Alumunium / Kalsium: Konstipasi
Antihistamin-Antikolinergik (Dimenhidrinat, Diphenhidramin, Hydroxyzin, Meclizin, Scopolamin, Trimethobenzamid) Mengantuk, kebingungan, penglihatan kabur, mulut kering, retensi urin, dan takikardia (terutama pada pasien usia lanjut).
Benzodiazepim (Alprazolam & Lorazepam) Pusing, sedasi, perubahan nafsu makan, gangguan memori
Butyrophenones Haloperidol: Sedasi, Konstipasi, dan Hipotensi. Droperidol: Perpanjangan QT dan / atau torsade de pointes
Cannabinoids Dronabinol: Euforia, mengantuk, xerostomia Nabilone: Somnolence, vertigo, xerostomia
Kortikosteroid Deksametason: Insomnia, gejala GI, agitasi, stimulasi nafsu makan Simetidin: Sakit Kepala Famotidin: Konstipasi dan Diare Nizatidin: Diare dan Sakit Kepala Ranitidin: Konstipasi dan Diare
5-Hydroxytriptamine-3 Receptor Antagonists Asthenia, Konstipasi, sakit kepala
Agen Miscellaneous Metoklopramid: Asthenia, sakit kepala, mengantuk Olanzapin: Sedasi
Phenothiazid Ekstrapiramidal, reaksi hipersensitivitas dengan kemungkinan disfungsi hati, aplasia sumsum, dan sedasi berlebihan Klorpromazin: Sembelit, pusing, takikardia, tardive dyskinesia Prochlorperazin: Interval QT yang lama, sedasi, tardive dyskinesia Promethazin: Mengantuk dan sedasi

DAFTAR PUSTAKA

Schwinghammer T.L, DiPiro C. V, Pharmacotherapy Handbook 9th edition, McGraw-Hill Education Companies, USA, 2015

    Leave a Comment

    Recent Posts